Rabu, 14 September 2016

LAPORAN TETAP PRATIKUM HUMIDITAS UDARA

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM
INSTRUMENTASI DAN TEKNIK PENGUKURAN
Humiditas Udara


Disusun Oleh:
Kelompok 2
1.               Agrivina Abel Novira    (061440410766)
2.               Ahmad Buhori               (061440410768)
3.               Desi Nurmala Sari                   (061440410771)
4.               M. Affif Arsyadie          (061440410776)
5.               Rian Fernando               (061440410780)
6.               Yenni Komala Sari        (061440410787)

Kelas                        :  3. EG. A
Dosen Pembimbing  :  Ahmad Zikri, S.T, M.T



POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2015
HUMIDITAS UDARA
       I.            TUJUAN PERCOBAAN
·         Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa dapat mengukur temperatur bola basah maupun temperatur bola kering.
·         Mahasiswa dapat menentukan humiditas udara menggunakan diagram phiskometrik
·         Mahasiswa dapat menentukan relative humiditas udara menggunakan diagram phiskometrik

    II.            ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN
Ø  Alat yang digunakan
·         Seperangkat alat TM
·         Termometer bola basah           1 buah
·         Termometer bola kering          1 buah
·         Gelas kimia 250 ml                 1 buah
·         Isolatif
·         Kain kassa

Ø  Bahan yang digunakan
·         Aquadest
·         Tissue

 III.            DASAR TEORI
Temperatur bola kering dan temperatur bola basah dalam pemprosesan sering diperlukan untuk menentukan uap air di dalam aliran gas atau kelembaban udara atau kandungan air dalam udara untuk pembakaran.  Operasi ini lebih dikenal dengan proses humidifikasi.  Penggunaan yang paling sederhana dan luas dalam proses humidifikasi adalah proses pengeringan padatan basah dengan pengukuran jumlah kandungan air dan pemakaian Ac.  Untuk menentukan relatif humidifitas dan humidifitas dari campuran air-uap digunakan grafik humidifikasi.
Cara penggunaan grafik humidifikasi adalah buat garis perpotongan antara temperatur bola kering dan bola basah dari titik perpotongan tarik garis sampai memotong garis relatif humidifitas sedangkan untuk menentukan humidifitas tarik garis perpotongan temperatur bola kering dan bola basah sampai memotong garis humidifitas.
Humidifitas (kelembaban) adalah nilai kuantitas air yang terkandung dalam udara lembab.  Nilai tersebut dapat ditampilkan sebagai Humiditas absolut (mv) Rasio Humidifitas dan Humidifitas relatif 0.  Humiditas absolut mv: total massa uap air yang terkandung dalam suatu sistem campuran udara lembab dalam suatu kuantitas volume tertentu.  Humiditas relatif (lebih dikenal dalam meteorologi sebagai relatif humiditi-RH) adalah nilai perbandingan antara tekanan parsial uap air aktual terhadap tekanan parsial uap air pada keadaan saturasi dengan suhu yang sama (suhu tabung kering).
Rasio humiditas (Humiditas spesifik) xv didefinisikan sebagai rasio jumlah massa air yang terkandung dalam setiap satuan massa udara kering.  Rasio humiditas dalam udara lembab memiliki nilai antara xv = 0 (udara kering) dan nilai maksimum xv = xvs (udara saturasi atau jenuh).  Kelembaban relatif adalah jumlah uap air di udara pada suhu tertentu dibandingkan  dengan uap air maksimum yang udara mampu menahan tanpa itu kondensasi, pada suhu tertentu. 
Termometer bola basah ( wet-bulb ) merupakan suhu yang didapat bila udara didinginkan pada tekanan konstan sampai jenuh ( 100% kelembaban ) oleh penguapan air dengan panas laten yang berasal dari udara tersebut.
Temperatur bola kering merupakan suhu yang diperoleh dari pengukuran suhu yang terjaga dari sinar matahari dan embun ( udara bebas ).
Kelembapan udara menyatakan banyaknya uap air dalam udara. jumlah uap air dalam udara ini sebetulnya hanya merupakan sebagian kecil saja dari seluruh atmosfer, yaitu  hanya kira-kira 2 % dari jumlah masa. Akan tetapi uap air ini merupakan komponen udara yang sangat penting ditinjau dari segi cuaca dan iklim.
Uap air adalah suatu gas, yang tidak dapat dilihat, yang merupakan salah satu bagian dari atmosfer. Kabut dan awan adalah titik air atau butir-butir air yang melayang-layang di udara. Kabut melayang-layang dekat permukaan tanah, sedangkan awan melayang-layang di angkasa. Banyaknya uap air yang di kandung oleh hawa tergantung pada temperatur.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Kelembapan :
1.      Ketingian Tempat
Apabila semakin tinggi tempat maka tingkatkelembabannya juga tinggi karena suhunyarendah dan sebaliknya semakin rendahtempat suhunya semakin tinggi dankelembabannya pun menjadi rendah.
2.      Kerapatan Udara Kerapatan udara.
Ini juga berkaitan dengansuhu dimana apabila kerapatan udara pada
daerah tertentu rapat maka kelembabanyatinggi. Sedangkan apabila kerapatan udara disuatu daerah renggang maka tinggkatkelembabannya juga rendah. Diketahui pula antara kerapatan,suhu,dan ketinggiantempat juga saling berkaitan..
3.      Tekanan Udara.
Tekanan udara juga mempengaruhikelembaban udara dimana apabila takananudara pada suatu daerah tinggi makakelembabanya juga tinggi,hal ini disebabkanoleh kapasitas lapang udaranya yang rendah.
4.      Radiasi Matahari.
Dimana adanya radiasi matahari inimenyebabkan terjadinya penguapan air diudara yang tingkatannya tinggi sehinggakelembaban udaranya semakin besar.
5.      Angin
Adanya angin ini memudahkan prosespenguapan yang terjadi pada air lautmenguap ke udara. Besarnya tingkatkelembaban ini dapat berubah menjadi airdan terjadi pembentukan awan.
6.      Suhu
Apabila suhu suatu tempat tinggi makakelembabanya rendah dan sebaliknyaapabila suhu rendah maka kelembabantinggi. Dimana hal ini antara suhu dankelembaban ini juga berkaitan denganketinggian tempat.
7.      Kerapatan Vegetasi
Jika tumbuhan tersebut kerapatannyasemakin rapat maka kelembabannya jugatinggi hal ini di sebabkan oleh adanyaseresah yang menutupi pada permukaantanah sangat besar sehingga berpengaruhpada kelembabannya.Bahkan sebaliknya apabila kerapatannya jarang maka tinggkatkelembabannya juga rendah karena adanyaseresah yang menutupi permukaan tanah inisedikit.


 IV.            PROSEDUR KERJA
1)      Menyiapkan alat TM dengan menggunakan blower.
2)      Menyiapkan termometer bola basah dengan cara membungkus ujung termometer dengan kain kasa atau tisue dan di lilit isolasi bening.
3)      Menghidupkan blower pada alat TM.
4)      Mencelupkan termometer bola basah ke dalam gelas kimia yang berisi air.
5)      Mengukur temperatur blower secara bersamaan antara temperatur bola basah dan bola kering selama lebih kurang 10 menit dan melakukan sebanyak 2 kali.
6)      Dari dara yang didapat tentukan kelembaban udara dan relatif menggunakan grafik humiditas.
7)      Lakukan langkah 1-6 juga pada tempat yang berbeda yaitu ruang lab, dibawah AC dan diluar ruangan

    V.            DATA PENGAMATAN

Lokasi
Temperatur
Bola Basah (°C)
Bola Kering (°C)
Ruang Laboratorium
24
28
21
30
Rata-rata
22,5
29
Bawah AC
18
20
16
19
Rata-rata
17
19,5
Temperatur Measurment
26
52
28
54
Rata-rata
27
53
Luar Ruangan
24
34
24
31
Rata-rata
24
33,5



 VI.            ANALISIS DATA

                Dari percobaan yang telah dilakukan dapat dianalisa bahwa humiditas adalah kuantitas air yang terkandung dalam udara yang lembab. Pada proses produksi dipabrik biasanya penentuan humiditas digunakan pada pengukuran kelembaban ruang bakar (burner), agar udara didalam ruang bakar diketahui keadaannya dan dapat memperlancar jalannya reaksi. Nilai humiditas sangat bergantung dengan kelembaban udara dari uap air, uap air berasal dari air berasal dari air yang menguap sehingga udara disekitar tempat penguapan menjadi lembab.
                Percobaan dilakukan dibeberapa tempat yaitu ruang laboratorium, bawah AC, temperature measurement dan diluar ruangan dengan setiap percobaan dilakukan sebanyak 2 kali agar didapat hasil rata-rata karena dalam pembacaan bisa saja berbeda. Pengukuran temperature bola basah menggunakan kain kassa yang dililitkan dengan isolative pada ujung thermometer bola basah, agar ketika dihembuskan suhu udara kelembabannya mempengaruhi suhu thermometer yang dihasilkan.
                Dari beberapa tempat yang menjadi lokasi percobaan didapatkan hasil data yang berbeda antara temperature bola basah maupun temperature bola kering, hal ini dikarenakan perbedaan suhu yang dihembuskan dari tempat tersebut dan faktor-faktor lainnya seperti ketinggian tempat, kerapatan udara, tekanan udara, radiasi matahari, angin dan kerapatan vegetasi.
                Pada pembacaan grafik, diperlukan tingkat ketelitian dalam melihat dan membaca grafik, khususnya dalam menemukan titik perpotongan garis antara bola basah dan bola kering, sehingga diperoleh hasil yang sesuai.












VII.            KESIMPULAN
Dari analisa percobaan dapat disimpulkan bahwa :
1)        Percobaan dilakukan pada tempat yang berbeda-beda yaitu ruang laboratorium, bawah AC, temperature measurement dan luar ruangan didapatkan hasil yang berbeda-beda pula
2)        Temperatur bola basah lebih kecil nilainya di bandingkan nilai temperatur bola kering diakibatkan oleh kelembaban.
3)        Hasil data yang didapat:
a.       Ruang Laboratorium
Temperature bola basah         : 22,5 °C
Temperature bola kering        : 29 °C
b.      Bawah AC
Temperature bola basah         : 17 °C
Temperature bola kering        : 19,5 °C
c.       Temperatur Measurement
Temperature bola basah         : 27 °C
Temperature bola kering        : 53 °C
d.      Luar Ruangan
Temperature bola basah         : 24 °C
Temperature bola kering        : 33,5 °C













VIII.            DAFTAR PUSTAKA
-          Jobsheet. 2015. Penuntun Pratikum Instrumentasi dan Teknik Pengukuran “HUMIDITAS”. Tim Dosen. Politeknik Negeri Sriwijaya. Palembang.
-          www. Scribd.com/laporan-humiditas/





























Pertanyaan :
29. Bahan bakar gas mengandung:
            Co2                  = 3,2 %
            C2H4                = 6,1 %
            C6H6                = 1,0 %
            O2                    = 0,8 %
            H2                    = 40,2 %
            CO                  = 33,1 %
C1,2H4,4            = 10,2 %
N2                    = 5,4 %   +
                        100 %
Asumsikan gas terukur 65 °F, 100% jenuh, pembakaran udara suplai 70 °F, tekanan 1 atm dan 60% humidity, 20% udara excess.
a.       Berapa dew point pada stuck gas?
b.      Berapa temperature bola basah saat gas keluar stuck T = 190 °F
c.       Jika T = 85 °F massa H2O terkondensasi basis 100 cuft bahan bakar gas?
Jawaban :
     70 °F 1 atm 60% RH
STUCK GAS
 
     Udara 20% excess                                                  T = 190 °
                                                                                    Temperatur bola basah?

      BBG = 65 °F 100% RH

Basis 100 lbmol
Mol komponen:
CO2                 = 3,2  x 100 lbmol = 3,2 lbmol
                           100
C2H4                 = 6,1  x 100 lbmol = 6,1 lbmol
                           100
C6H6                 = 1,0  x 100 lbmol = 1,0 lbmol
                           100
O2                      = 0,8 x 100 lbmol = 0,8 lbmol
                           100
H2                      =  40,2  x 100 lbmol = 40,2 lbmol
                            100
CO                    =  33,1  x 100 lbmol = 33,1 lbmol
                            100
CO                    =  33,1  x 100 lbmol = 33,1 lbmol
                            100
C1,2H4,4                =  10,2  x 100 lbmol = 10,2 lbmol
                            100
N2                      =  5,4 x 100 lbmol = 5,4 lbmol
                           100
Reaksi pembakaran:
C2H4                +          3O2                                        2CO2               +          2H2O
C6H6                +          15/2O2                                 6CO2               +          3H2O
H2                    +          1/2O2                                    H2O
CO                  +          1/2O2                                    CO2
C1,2H4,4            +          2,3O2                                    1,2CO2                        +          2,2H2O
Mol O2 teoritis                 = [3(6,1 lbmol) + 15/2(1,0 lbmol) + ½ (40,2 lbmol) + ½ (33,1 lbmol) + 2,3 (10,2 lbmol)] – 0,8 lbmol
                                        = 85,11 lbmol
Mol O2 dari udara           = (100 + 20)% x 85,11 lbmol
                                        = 102,132 lbmol
Mol O2 berlebih               = (102,132 – 85,11) lbmol = 17,022 lbmol
Mol O2 suplai                   = 100/21 x 85,11 lbmol = 405,28 lbmol
N2 dari udara                   = 79/21 x 102,132 lbmol = 384,21 lbmol
CO2                                 = [2(6,1 lbmol) + 6(1,0 lbmol) + (33,1 lbmol) + 1,2 (10,2 lbmol)] – 3,2 lbmol
                                        = 60,34 lbmol
H2O                                 = [2(6,1 lbmol) + 3(1,0 lbmol) + (40,2 lbmol) + 2,2 (10,2 lbmol)]
                                        = 77,84 lbmol

C. T       = 85 °F
     T(R) = 85 + 460 = 545 °R
     Po    = 1,21385 inHg
     P     = 29,92 inHg
     V    = 100 cuft

H =        Po           =        1,21385 inHg
             P - Po         (29,92 – 1,21385) inHg
                          = 0,04229
P V = n R T
n = P V
      R T
n   = 1 atm x 29,92 inHg/atm x 0,4912 psia/inHg x 100 cuft
                   10,73 cuft psia/lbmol °K x 545 °R
     = 0,2513 lbmol
Bm udara campuran   = (79/100 x 28 lbmol) + (21/100 x 32 lbmol)
                                    = 28,84 lb/lbmol
Massa udara                = n x bm
                                    = 0,2513 lbmol x 28,84 lb/lbmol
                                    = 7,247 lb udara kering
Massa H2O dalam udara = 7,247 lb udara kering x 0,04229 lb H2O/lb udara kering
                                        = 0,306 lb
                                   






Tidak ada komentar:

Posting Komentar